Manisan Nira Pemanis Pengganti Gula di Nagan Raya 

DISBUDPARPORA NAGAN RAYA- Manisan nira sudah tak asing lagi Aceh, berbagai macam makanan dan minuman diolah dengan menggunakan gula yang berbahan dasar nira, seperti halnya penyajian kopi di Nagan Raya, bahkan salah satu warung kopi di Ibukota Suka Makmue, Nagan Raya menamainya warung kopi manisan.

Hal itulah yang membuat kami penasaran dan melihat langsung seperti apa proses pembuatan manisan nira yang banyak disediakan di sejumlah warung maupung pasar di Nagan Raya.

Pagi yang cerah dengan nuansa dingin di Desa Blang Sapek, Kecamatan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya, Aceh terletak dipinggiran bukit yang dihiasi dengan hamparan sawah. saat itu, matahari menujukan pukul 08:00 Wib pagi.

Terlihat satu rumah warga dengan gumpalan asap keluar dari sebuah dapur kecil disudut depan dengan suasana dibawah pohon rindang dan tidak sedikit kayu bakar yang tersusun rapi digubuk depan rumah yang berkontruksi kayu itu.

Dapur kecil itu milik Usman pria paruh baya (63) yang sedang terlihat memanaskan air nira mentah untuk dijadikan manisan nira ketika ditemui, Minggu.

Sebelum hendak mendekati dapur kecil itu tentunya sebagai tamu yang baik harus menemui pemilik rumah, meminta izin melihat langsung proses pembuatan manisan nira tersebut.

Usman mengaku bertahun-tahun bergelumang dalam kegiatan memanen nira, setiap harinya, dia dapat mengumpulkan sebanyak 16 liter air nira mentah dari perkebunan miliknya di Desa Kabu Blang Sapek untuk dimasak menjadi manisan nira yang dikemas dalam botol bekas sirup yang nantinya digunakan sebagai pemanis makanan dan minuman masyarakat setempat.

Usman disebut sebagai orang yang sangat ahli dalam memanen nira, bahkan banyak masyarakat setempat yang setiap harinya sudah mengantri, untuk mencicipi air nira mentah yang dipanen dua kali sehari dari.

"Setiap hari masyarakat disini udah duluan meminta air nira yang saya panen, karena mereka takut tidak kebagian" ujar usman.

Dia mengatakan air nira mempunyai khasiat yang dapat menetralisir berbagai penyakit seperti sakit perut, diabetes,kolesterol, dan demam.

"Masyarakat disini banyak yang minta air nira sama saya, macam-macam katanya bisa menyembuhkan berbagai penyakit demam, darah manis (Diabetes), obat sakit perut dan lain-lain lah" lanjutnya.

Usman  dengan suka rela memberikan air nira yang setiap hari dipanennya itu kepada siapa saja yang membutuhkan secara cuma-cuma, namun beda halnya dengan yang sudah menjadi manisan yang telah dikemas di dalam botol, dia menjualnya dengan harga Rp. 20.000 perbotolnya.

"Biasanya sebelum dimasak, juga saya kasih aja kepada siapa yang minta, untung-untung sedekah, kecuali yang udah dimasak jadi manisan itu kami jual dengan harga 20.000 rupiah perbotol sirup ini" kata usman sembari menunjukkan manisan nira yang telah dikemas dalam botol sirup itu.

Dalam prosesnya setelah dikumpulkan air nira  mentah dituangkan didalam sebuah wajan aluminium, direbus selama kurang lebih tiga jam lamanya hingga menguning dan kental sebelum akhirnya siap dikemas.

Menjual manisan nira bukanlah mata pencaharian utamanya, namun kegiatan itu adalah selingan disela-sela Usman bekerja sebagai petani didesa setempat.

"Yang kami masak ini adalah air nira sisa, ya daripada terbuang mubazir kami masak jadi manisan, dan kebetulan banyak dibeli oleh pemilik-pemilik warung kopi yang dipakai menjadi pemanis pengganti gula,"ungkap usman.[]

Share this post

Pinterest
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait :